Novel Perfect Evidence by raiden.txt

Novel Perfect Evidence by raiden.txt Halo. Hai. Ini ngerekam, kan, ya? Tes. Tes. Oke. Halo. Namaku Meredith. Siapa pun yang mendengarkan ini, tolong aku. Aku akan dibunuh.

***

Siapa yang tidak kaget jika tiba-tiba saja menemukan kaset yang berisi permohonan pertolongan karena dirinya akan dibunuh? Valerian dan Amarsa mempunyai kehidupan sebagai mahasiswa arsitektur yang normal. Kehidupan normal itu hilang dalam sekejap saat Valerian dan Amarsa mendapatkan sebuah kaset berisi rekaman seorang perempuan bernama Meredith yang meminta tolong karena ia akan dibunuh. Bagaimana keduanya mengungkap kebenaran di balik rekaman itu?

Bab 1 Novel Perfect Evidence

Halo. Hai. Ini ngerekam, kan, ya? Tes. Tes. Oke.

Halo. Namaku Meredith.

Valerian mengerutkan dahinya. Mengapa ia mendengar suara perempuan alih-alih mendengarkan musik. Ia membeli satu dus kaset yang ia pikir itu adalah kumpulan kaset yang berisi lagu jadul. Valerian salah. Itu bukanlah kaset musik, melainkan rekaman seorang wanita.

Siapapun yang mendengarkan ini, tolong aku. Aku akan dibunuh.

Mata Valerian membulat. Valerian menghentikan walkmannya.

#

Valerian memijat kepalanya frustasi. Kepalanya terasa sangat berat. Jika ia bisa menaruhnya terlebih dahulu, ia akan melakukannya. Valerian tengah berada di studio arsitektur kampusnya. Ia sedang merevisi tugasnya yang baru saja dicoret-coret oleh asisten dosennya. Valerian ingin berhenti kuliah, namun tidak bisa begitu. Ia tidak tahu keahlian lain apa yang bisa ia lakukan. Selain itu, Valerian tidak ingin memberatkan orang tuanya, apalagi mengecewakan mereka.

Sepasang mata melihat ke arah Valerian dan menghampirinya dengan membawa dua lembar kertas ukuran A2 yang digulung. Laki-laki itu menepuk pundak Valerian dan berkata, "Hai, cewek."

"Hai, cowok," bales Valerian sambil terkekeh. "Gimana tadi asistensi? Dicorat-coret gak?"

Laki-laki bernama Amarsa itu duduk di sebelah Valerian, "Bukan dicoret lagi, dirobek. Katanya desain gue gak efektif, padahal udah gue pikirin mateng-mateng."

"Terus lo ngulang dari studi aktivitas, dong?" tanya Valerian kaget sambil meraut pensilnya. "Capek banget."

"Nggak ngulang!" jawab Amarsa sambil membuka kertasnya dan menempelkannya dengan selotip kertas. "Studi aktivitas gue kan isinya sama kayak lo. Lo disetujui, masa gue nggak?"

Valerian mulai menggaris, "Biasa lah, beda asdos, beda pandangan."

Amarsa menelungkupkan wajahnya ke meja, "Capek! Mau pindah jurusan!"

"Di jurusan apapun sama, sama-sama capek. Udah, lanjutin, Mar."

"Bete," ujar Amarsa sambil cemberut.

Valerian menghentikan aktivitas menggambarnya dan menghadap ke Amarsa, "Jangan bete, nanti temenin gue ke toko barang bekas, ya. Gue mau beli meja gambar."

"Gue juga mau," Amarsa merayu Valerian.

"Beli sendiri."

"Gue gak punya duit." Amarsa cemberut.

"Gambar dulu, masih banyak, tuh."

Amarsa mulai menggambar desainnya. Sesekali Valerian melirik ke arah desain Amarsa. Valerian menunjuk satu bagian dari desain Amarsa, "Mar, ini nih gak efektif. Ada sudut matinya."

Valerian dan Amarsa saling mengoreksi desain satu sama lain sambil mengerjakan pekerjaan mereka.

#

Valerian dan Amarsa kini berada di toko barang bekas. Terakhir kali mereka datang, meja gambar tersebut ada. Sekarang tidak ada lagi. Pundak Valerian dan Amarsa melemas. Mereka saling menatap satu sama lain. Valerian menghela napasnya, "Malam ini beli koyo lagi, deh."

"Gue pijitin mau, gak?" tawar Amarsa.

Valerian menatap Amarsa dingin, "Gak."

Valerian meninggalkan Amarsa yang masih diam di tempat terakhir mereka melihat sebuah meja gambar tengah dijual. Valerian mengitari toko barang bekas tersebut. Matanya tertuju pada sebuah kotak besar berisi kaset. Gadis itu menghampiri kotak tersebut dan membukanya. Ia kemudian mengambil salah satu kaset tersebut dan memperhatikannya. “M? M apa? Grup band, kah? Mar, sini!" panggil Valerian.

Amarsa menghampirinya, "Kenapa-Wah, kaset! Album apa aja, nih? M apaan?"

Valerian menggeleng, "Gak tau. Beli jangan?"

"Beli," Amarsa menyarankan. "Lumayan buat nemenin pas nugas."

"Bener juga." Valerian beranjak membawa kotak itu ke kasir dan membayarnya. Tidak lupa Valerian juga membeli walkman untuk mendengarkannya.

Amarsa memanggil Valerian, "Rian, habis ini kemana?"

"Kan udah gue bilang, panggil gue Val atau Ale aja," gerutu Valerian sambil menggendong kotak besar itu. "Gue mau pulang."

"Mau gue anter, gak?"

"Gue bawa mobil sendiri, Mar. Lo lupa?"

#

Valerian menaruh kaset itu di ruang belajar miliknya. Valerian memasukkan kaset yang ditulis dengan angka satu ke dalam walkman yang ia beli. Valerian mencoba mendengarkannya.

Halo. Hai. Ini ngerekam, kan, ya? Tes. Tes. Oke.

Halo. Namaku Meredith.

Valerian mengerutkan dahinya. Mengapa ia mendengar suara perempuan alih-alih mendengarkan musik. Ia membeli satu dus kaset yang ia pikir itu adalah kumpulan kaset yang berisi lagu jadul. Valerian salah. Itu bukanlah kaset musik, melainkan rekaman seorang wanita.

Siapapun yang mendengarkan ini, tolong aku. Aku akan dibunuh.

Mata Valerian membulat. Jantung Valerian memompa lebih cepat dari biasanya. Valerian menghentikan walkmannya dan memanggil Amarsa untuk datang. Tak butuh waktu yang lama untuk menunggu Amarsa datang. Amarsa langsung masuk ke ruang belajar Valerian dan duduk di sampingnya. "Kenapa?"

Valerian menyodorkan walkmannya pada Amarsa, "Dengerin."

Amarsa menatap walkman itu bingung, namun pada akhirnya ia mengambil walkman itu. Amarsa mulai mendengarkan kaset tersebut. Saat ia mendengar seorang perempuan berbicara di kaset tersebut, Amarsa mematikannya dan memegang dadanya, "Itu apa?"

Valerian mengedikkan bahunya dan menatap Amarsa horor, "Gak tau."

Mereka terdiam dengan jantung yang berpacu cepat. Amarsa menelan ludahnya, "Mending lo kembaliin, minta refund."

"Pasti gak boleh," ujar Valerian pesimis sambil mengembalikan kaset tersebut ke dalam kotaknya. "Bakar aja, kali, ya?"

Amarsa berpikir sejenak. Ia mempunyai perasaan aneh terhadap kaset-kaset itu. "Kalau cewek di kaset itu beneran minta tolong, gimana?"

Valerian menatap Amarsa bingung. Ia tengah merasa bimbang karena ia tidak mau berurusan dengan hal aneh seperti kaset ini, namun di sisi lain perempuan yang ia dengar sedang meminta tolong.

"Tapi aneh juga, zaman sekarang kok pake ini ya?" tanya Amarsa sambil mengambil salah satu kaset tersebut. "Kode produksinya tahun 2006, loh."

Valerian merebut kembali kaset yang diambil oleh Amarsa, "Apa yang jual isengin kita dengan taruh kaset pribadi ke sini ya? Masa kalau pribadi ada kode produksi sih, dijual lagi. Gue balikin besok. Sekarang, gue mau nugas. Lo mau bareng atau nggak?"

Amarsa menyengir tanda mengiakan.

Jika selera bacaanmu adalah novel crime atau thriller, buruan deh mampir ke situs baca novel gratis kayak aplikasi Cabaca. Udah novelnya berkualitas, kita juga bisa nemuin genre lain selain novel thriller Indonesia, kayak misalnya novel action, novel romance, teenlit, dan lain-lain. Yuk, pasang Cabaca di HP kamu, unduh di Play Store.

Baca Juga Novel Serupa Perfect Evidence: